Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Persatuan Alumni Darul Ulum Banyuanyar (PERADABAN) Kecamatan Pegantenan Koordinator Desa (Kordes) Plakpak berkolaborasi dengan Ikatan Santri dan Alumni Plakpak (INSAP), Ikatan Alumni Bata-Bata (IKABA) Plakpak, serta Ikatan Alumni Al-Mujtama’ (IKMAL) Plakpak dalam penyelenggaraan Kemilau Santri IV.
Kegiatan yang merupakan agenda rutin tahunan INSAP ini menjadi momentum sinergi antara santri aktif dan para alumni lintas pesantren. Pada pelaksanaan tahun ini, DPW PERADABAN Pegantenan Kordes Plakpak turut ambil bagian aktif dalam menyukseskan rangkaian acara.
Kemilau Santri IV berlangsung sejak 11 hingga 25 Maret 2026, dengan berbagai kegiatan yang bernuansa edukatif, religius, dan sosial. Di antaranya Lomba Tahfidz Juz 30 dan Shalawat Nabi antar surau dan lembaga se-Kabupaten Pamekasan dan sekitarnya, Lomba Futsal antar santri, serta kegiatan berbagi takjil selama bulan Ramadan.
Puncak kegiatan dikemas dalam acara “Plakpak Bershalawat” yang dirangkaikan dengan penutupan Kemilau Santri IV sekaligus penganugerahan award. Kegiatan ini juga melibatkan Majlis Riyadul Jannah Wilayah Pegantenan dan digelar di Yayasan Khoirul Abror, Mandalika, Dusun Sajum, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Kabupaten Pamekasan, pada malam Kamis (25/3).
Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) INSAP yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPW PERADABAN Pegantenan Kordes Plakpak, Moh. Ali Wafa, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kolaborasi antar elemen santri dan alumni.
“Kegiatan ini adalah hasil kolaborasi antara santri aktif (INSAP) dan para alumni, termasuk PERADABAN, IKABA, dan IKMAL,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperkuat syiar nilai-nilai pesantren di tengah masyarakat.
“Ini juga menjadi upaya untuk terus menaburkan nilai-nilai keislaman, sehingga dapat memperkuat keimanan sekaligus menambah wawasan keilmuan,” lanjutnya.
Lebih jauh, ia berharap kegiatan ini mampu menjaga identitas dan nilai-nilai kesantrian agar tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
“Sehingga nilai seorang santri tetap terjaga dan tumbuh subur di kalangan masyarakat,” pungkasnya.
